orange ku

orange ku
AKU MENYUKAI WARNA ORANGE

Senin, 15 Desember 2014

membangun harga diri



Semoga Allah memberi kemampuan kepada kita untuk membaca potensi yang telah Allah berikan. Menggali dan mengembangkan diriki kita dengan baik sehingga hidup yang sekali-kalinya ini tidak menjadi beban bagi orang  lain, bahkan hidup terhormat karena bisa meringankan beban orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah saw “bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya”.
Benar, bahwa dalam hidup ini kita pasti membutuhkan orang lain. Itu pasti! Tetapi menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Kita sepakat bahwa para peminta cenderung lebih rendah dibandingkan dengan orang yang memberi pinjaman. Orang yang berharap pertolongan kepada manusia, lebih rendah posisinya dibanding dengan orang memiliki kemampuan menolong banyak orang.
Dengan kata lain, sudah saatnya kita muliai menumbuhkan semangat kemandirian dari diri kita. Sebab menjadi manusia yang mandiri adalah manusia yang akan memiliki harga diri. Mandiri membuat kita lebih tenteram diri. Bangsa mandiri adalah bangsa yang akan mempunyai harga diri. Dalam al-Quran ditegaskan bahwa Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu gigih mengubah nasibnya sendiri. Kita tidak bisa menyalahkan orang-orang yang mengancam, memboikot, menghalangi kita. Kita diberi kemampuan oleh Allah untuk mengubah nasib kita. Berarti, kemampuan kita untuk mandiri dalam mengarungi hidup ini, merupakan kunci yang diberikan oleh Allah untuk sukses dunia dan insyaAllah di akhirat kelak.
Tidak sedikit keuntungan yang dapat diperoleh kita kita mulai menanamkan semangat kemandirian. Keuntungan pertama, kita aan mempunyai wibawa sendiri. Sehebat-hebat peminta-minta pasti tidak akan mempunyai wibawa. Lihat saya, misalkan seorang aparat yang berpenampilan gaah gemar melakukan pungutan yang tidak semstinya, pasti akan jatuh wibawanya. Oleh karena itu, kalau kita ingin menjadi negeri yang mempunyai harga diri kita harus menjadi negeri mandiri.
Keuntungan lainnya, seperti yang dikemukakan tadi, kita makin percaya diri dalam menghadapi masalah sendiri akan berbeda semangatnya dalam mengarungi hidup ini dibanding dengan orang yang selalu berstandar kepada orang lain.
Kalau negara kita berstandar kepada lembaga-lembaga lain, maka kita mungkin harus mau mendengar mereka. Ita menjadi kita bebas. Ini bahaya! Dan kalau kita bersandar kepada selain Allah, kita akan takut sandarannya hilang. Maka orang-orang yang mandiri cenderung lebih tenang dan lebih tenteram dalam menghadapi hidup ini. Selain dia siap mengarungi, dia juga memiliki mental yang mantap. Ingat! Mandiri itu adalah sikap mental. Banyaknya kasus korupsi di negara kita, sebenarnya mencerminkan bahwa mental miskin juga mental yang sangat tidak mandiri masih ada. Maunya bergantung kepada fasilitas, bergantung kepada kekuasaan dan sebagainya.
Lantas, apakah langkah yang harus ditempuh untuk menjadi pribadi mandiri? Pertama, mandiri itu awalnya memang dari mental seseorang. Jadi seseorang harus memiliki tekad yang kuat untuk mandiri. “saya harus menjadi manusia terhormat dan tidak boleh jadi benalu”
Ada sebuah kisah. Dulu, ketika dalam suatu kesempatan saya berada di Madinah, tepatnya didaerah Masjid Nabawi. Ketika itu kami melihat ada seorang laki-laki yang tunanetra, telinganya ditutup  kapas, dan raut wahahnya sederhana. Dia dudul di atas tikar yang lusuh dan didepannya ada bebedapa botol minyak wangi. Kala itu kami tergerak untuk datang memberinya sedekah. Namun apa yang terjadi, saat itu beliau menolak jika diberi urang sebagai sedekah. Beliau hanya mau menerima uang jika kami membeli minyak wanginya. Dan itu pun hanya setara menerima dengan harga minyak wangi yang kami beli, tidak mau dilebihkan. Subahanallah, sungguh  pun memiliki keterbatasan fisik, ternyata beliau pantang meminta-minta.
Rasulullah sendiri adalah cermin pribadi mandiri. Kita ingat, beliau lahir dalam keadaan yatim. Dan  tidak lama sesudahnya beliau menjadi yatim piatu. Namun,  Rasulullah saw memiliki tekad yang kuat untuk hidup mandiri, tidak menjadi beban bagi orang lain. Mulai dari usia delapan tahun dua bulan, Rasulullah saw sudah mulai menggembalakan kambing. Terus berkembang, hingga pada usia 12 tahun sudah melakukan perjalanan sebagai khafilah dagang. Diusia 25 tahun, Muhammad menikahi Siti Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Saya kira, diindonesia ini msih sulit kita jumpai pemuda yang berani memberi mahar sebanyak atau setara dengan itu.
Kisah lain menuturkan bahwa seorang sahabat, Abdurrahman bin Auf, ketika berangkat hijrah dari Makkah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf ditawari sebidang kebun kurma, namun beliau malah minta ditunjukkan jalan ke pasar. Ya! Beliau lebih memilih mencari kail ketimbang diberi ikan. Hasinya beliau tumbuh menjadi seorang pengusaha berhasil. Bahkan ketika peperangan dengan kaum kafir, beliau menyedekahkan begitu banyak unta untuk membantu tentara kaum Muslimin.
Jadi, jiwa mandiri ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil. Sebab jika tidak, maka potensi apapun tidak bisa ddibuat menjadi manfaat. Kita harus mulai merindukan anak-anak kita tumbuh tidak sekadar menjadi pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi yang ada di bangsa ini tidak tergali. Namun, ini tentunya tidak berarti bahwa mereka yang bekerja pada orang lain itu tidak mandiri. Para karyawan, buruh atau pekerja lainnya pun jelas merupakan sosok mandiri. Sebab penekanannya di sini adalah kesungguhan berikhtiar agar tidak menjadi beban bagi orang lain.
Kedua, kita harus mempunyai keberanian. Berani mencoba dan berani memikul resiko. Orang yang bermental mandiri, tidak akan mengannggap kesulitan sebagai hambatan, melainkan sebagai tantangan dan peluang. Kalau sudah dicoba, jatuh. Itu biasa. Bukankah waktu kita belajar berjalan juga jatuh bangun? Justru kalau kita tidak berani mencoba , itulah kegagalan.
Bahkan pengalaman bangkrut juga dapat menjadi sebuah keuntungan. Artinya, dari kebangkrutan itulah dia akan belajar untuk memperbaiki lagi usahanya, pengalaman tersebut dapat membuatnya lebih waspada dan lebih semangat lagi agar tidak jatuh pada lubang yang sama.
Gagal adalah sebuah ongkos sukses, selama kita bisa mengambil hikmah dari kegagalan itu. Gagal juga merupakan sebuah informasi menuju sukses, asal benar mengemasnya. Kunci yang ketiga bila ingin mandiri adalah mempertebal tingkat keyakinan kita kepada Allah.
Kita harus yakin, Allah yang menciptakan kita, Allah yang memberikan rezeki kepada kita. Manusia itu tidak mempunyai apa-apa, kecuali apa yang Allah titipkan. Bergantung kepada manusia hanya akan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar